Betapa Utopianya Kerja-kerja Para Pegiat Lingkungan dari Sudut Pandang Seorang Pesimis

Muh. Syahrul Padli
4 min readFeb 10, 2021

(Muh. Syahrul Padli)

search.creativecommons.org

Hai teman-teman para pengamat dan pegiat lingkungan. Masih semangat dalam menempuh jalan sunyi ini kan? Ya harus semangat dong, wong kerja-kerja menjaga lingkungan sangat penting bagi dunia di masa depan.

Di mana pun kalian berada, di hutan, di lokasi tambang, di tumpukan kayu gelondongan ilegal dekat sungai, di pemukiman penduduk dekat gunung kapur, saya harap kalian dalam kondisi sehat dan tetap dengan niat suci berjuang demi kelangsungan spesies tanaman dan tumbuhan yang terancam punah karena ulah manusia.

Dengan penuh penghargaan kepada kalian, izinkanlah saya menyampaikan pendapat nggak make sense ini. Pendapat yang muncul dari sikap pesimis seorang wartawan gurem setelah terjun selama sekian tahun dalam aktivitas liputan kerusakan lingkungan; dan sikap putus asa seorang warga biasa yang merasa perjuangan menghentikan aktivitas tambang dekat rumah adalah sia-sia. Mana tahu, berkat kepesimisan saya ini, kalian bisa punya samsak untuk ditinju agar melatih otot optimisme kalian.

Baiklah, saya siapkan kopi saset dulu. Supaya tulisan saya punya bau senja. Maaf ding, maksud saya agar tulisan saya lebih oke dan kelihatan ngintelektuil.

Berikut saya paparkan alasan mengapa kerja-kerja pegiat lingkungan menurut saya adalah pekerjaan yang sebaiknya dihentikan saja.

Yang pertama, konservasi lingkungan atas nama kelangsungan hidup spesies tanaman, biota laut dan hewan-hewan terancam punah itu tidak manusiawi. Mana sih yang utama? kelangsungan hidup Homo sapiens atau mahkluk lain? Jelas dong yah, Homo sapiens. Wong spesies sendiri. Jadi kalau dampak dari usaha sebagian manusia bertahan hidup adalah memusnahkan spesies lain secara tak langsung, ya itu akibat biasa aja.

Dinosaurus macam Tyrex mengancam keselamatan spesies lain di masanya dan nggak ada tuh dinosaurus pemakan tumbuhan yang protes. Ya iyalah, nggak ada yang protes, nggak ada sosmed. Bakteri dan virus memusnahkan manusia di Eropa dan Afrika dalam bentuk wabah, nggak ada tuh yang protes ke virus dan bakteri.

Virus mungkin bisa dikesampingkan karena masih fifty-fifty apa masuk organisme hidup atau bukan. Tapi bagaimana dengan bakteri? Jelas-jelas ini makhluk hidup. Mana bentuk protes kalian kepada bakteri? Mana tautan petisi untuk ditandatangani sebagai bentuk protes kepada presiden bakteri?

Lha ini, manusia yang hanya mau bertahan hidup dengan membabat hutan untuk dijadikan lahan sawit, dijadikan perumahan bersubsidi, dijadikan daerah wisata, dijadikan pabrik, dijadikan area rumah mewah, dijadikan ibukota baru, malah diprotes. Duh, saya nggak habis pikir betapa teman-teman pegiat lingkungan ini nggak mendukung kenyamanan sesama manusia.

Yang kedua, aksi-aksi konservasi lingkungan itu nggak akan berhasil selama manusia bereproduksi dan berkembangbiak. Lha kok gitu? Ya memang gitu kok. Angka kelahiran pada periode waktu tertentu, yang memicu ledakan angkatan kerja pada tahun-tahun ini, akan memicu pembangunan hunian dalam skala kecil dan besar. Selama orang butuh hunian, selama itu juga alam akan berpotensi rusak.

Sudah jadi konsekuensi logis bahwa populasi manusia yang butuh hunian bertambah di suatu daerah menjadi salah satu sebab para pengusaha mengambil kesempatan, mencari lahan tambang tanah timbunan dan pasir, mencari bukit kapur untuk bahan baku semen dan sebagainya.

Keuntungan pribadi elit dalam kapitalisme mungkin jadi setan yang akan disalahkan. Wajar sih. Pegiat lingkungan toh nggak terlalu mau lihat dari sisi buruh, mandor, manajer, bagian marketing dan lain-lain yang bisa menghidupi keluarganya berkat perusahaan yang didirikan elit pengusaha ini.

Lagi-lagi menurut saya yah, yang pesimis ini, masalah utama kerusakan lingkungan dan punahnya beberapa spesies tanaman dan hewan tertentu bukan pada elit pengusaha atau kapitalisme saja, tapi pembangunan.

Soal pembangunan ini bukan hanya soal bisnis skala besar. Anda, barangkali, juga salah satu bagian dalam pembangunan skala kecil yang menyumbang kerusakan lingkungan secara tak langsung.

Selama Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, anak Anda, cicit Anda membangun rumah yang menggunakan bahan bangunan berupa batu bata, semen, batu kali, selama itu, Anda pasti ikut serta menyuburkan pengusaha-pengusaha dengan bisnis tercap penghancur lingkungan tadi.

Pembangunan di suatu daerah adalah pengerusakan di daerah lain. Itulah pertukaran ‘setara’ yang menjadi sejenis hukum alam. Seberapa hebat kalian, teman-teman pegiat lingkungan mau melawan hukum alam? Wong hukum buatan manusia seperti UU ITE aja sulit dilawan.

Solusi mengurangi dampak buruk pembangunan yang merusak alam jelas ada. Dengan cara apa? Salah satunya dengan membangun rumah kayu jika memungkinkan. Kenapa? Rumah kayu tak butuh semen sehingga dampak penambangan pasir, batu kali, timbunan tanah, bisa diminimalisasi. Sumber kayunya bisa didapat dari hutan produksi.

Tapi apakah itu akan berdampak baik pada lingkungan secara signifikan? Tentu tidak. Dalam skala kecil, ini mungkin berpengaruh. Dalam skala besar? Ya enggaklah. Industri semen, batu bata, besi, batu kerikil itu masih menjanjikan sampai ilmuwan Fisika bidang rekayasa bahan menemukan alternatif lain yang mudah dan ramah lingkungan — dan ini butuh waktu sangat lama di luar negeri; di Indonesia nggak mungkin karena jangankan biaya riset temuan tepat guna, riset macam energi terbarukan berbasis panel surya berbahan ekstrak tumbuhan saja kesulitan dapat sokongan pemrentah terkait .

Jadi yah, selamat datang di usaha tanpa akhir kalian. Selamat melaju. Saya mau stop dulu karena kopi sasetan yang saya seduh khusus untuk menemani saya mengetik sudah habis. Saya mau menyetok dulu di warung tetangga untuk persiapan menulis artikel pesimis lain.

Jadi, jika menjadikan tulisan saya ini bahan bully-an, sebagai contoh tulisan yang lahir dari otak penulis yang hanya sebesar biji sawi, sebagai target serangan beruntun demi menguatnya persatuan teman-teman pegiat lingkungan se-Indonesia, dan itu bisa memperpanjang optimisme teman-teman pegiat lingkungan, saya dengan senang hati menerimanya.

--

--

Muh. Syahrul Padli

A Science Teacher, Head of Penghayat Sumur Community and Digital-Creative worker. co-Founder YT Bawah Pohon Science (an alternative education platform).