Cara Saya Melihat Film

Muh. Syahrul Padli
4 min readFeb 7, 2024

(Muh. Syahrul Padli — Esai Reflektif)

credit photo

Saya relatif lebih beruntung dibanding yang lain. Saya menyukai film, terinspirasi dari film-film bagus dan berkesempatan belajar tentang film dari orang-orang yang berkecimpung di sana.

Saya pikir, di antara sekian banyak ke-medioker-an saya, di antara tak terhitung ketakbergunaan saya dalam kehidupan ini, masih ada sesuatu yang bisa saya banggakan: bisa menkmati film secara awam maupun teknis.

Bertolak dari pengalaman sebagai seorang penonton biasa dan sebagai orang yang punya bekal sebagai pekerja di belakang layar, saya ingin menuliskan pemaknaan saya tentang film.

Izinkan saya sedikit berpura-pura jadi seorang yang agak filosofis.

Menurut saya, film, sebagai bentuk seni yang dinamis dan penuh eksplorasi, seharusnya tidak hanya menyajikan hiburan visual semata, tetapi juga menjadi cermin kehidupan.

Bagaimana?

Sudah tersihir kepura-puraan saya yang memakai bahasa ndakik-ndakik?

Wah, terdengar sangat berisi. Padahal sebenarnya itu pandangan yang saya comot saja, bukan hasil dari proses berpikir yang sistematis.

Film tidak sesulit itu untuk dipahami. Film tak perlu didefinisikan sedemikian rupa. Karena film adalah apa yang kita tangkap dengan mata, telinga dan rasa. Kita tak perlu memadatkannya menjadi sebuah konsep abstrak.

Walaupun film bisa “dibedah” entah dengan pisau bernama psikoanalisa dan semiotika, film tetaplah sesuatu yang mirip dengan kehidupan. Tak ada rumus pasti menjalaninya. Tapi selalu ada jalan yang setidaknya berguna bagi masing-masing orang untuk sampai ke tujuan.

Saya akan coba berbagi dua peta jalan: sebagai penonton dan sebagai pembuatnya. Semoga berguna — atau paling tidak jadi contoh buruk sesuatu yang tak berguna .

Film sebagai Cermin Kehidupan: Perspektif Penonton

Ketika kita duduk di dalam bioskop atau di depan layar televisi, kita memasuki dunia yang diciptakan oleh sutradara dan kru film (aktor dan aktrisnya serta semua elemen yang menyukseskan produksi dan pasca produksi).

Kita tidak hanya menyaksikan kisah-kisah yang ditampilkan di layar, tetapi juga merasakan emosi yang diungkapkan oleh karakter, menikmati nuansa, terpukau oleh latar dan sebagainya. Kita bisa ikut sedih, marah, membenci salah satu karakter dan yang lainnya.

Film menjadi jendela yang membuka pandangan kita terhadap berbagai aspek dari kehidupan sehari-hari yang biasa saja hingga petualangan epik.

Salah satu kekuatan film sebagai cermin kehidupan terletak pada kemampuannya untuk menyajikan beragam perspektif. Melalui karakter-karakter yang dikembangkan dengan baik, penonton dapat merasakan dan memahami pengalaman yang mungkin berbeda dengan mereka. Film bisa mengajak kita untuk berempati dan menggali lebih dalam tentang kompleksitas manusia dan hubungan antarmanusia.

Tidak hanya itu, film juga mampu merefleksikan nilai-nilai dan konflik sosial yang tengah terjadi dalam masyarakat. Dalam beberapa kasus, film bahkan mampu menjadi katalisator perubahan dengan mengangkat isu-isu penting dan menyoroti ketidakadilan. Misalnya, film-film dokumenter sering kali menjadi alat untuk membuka mata masyarakat terhadap masalah sosial seperti ketidaksetaraan, perubahan iklim, atau pelanggaran hak asasi manusia.

Pembuat Film sebagai Penyampai Cerita Kehidupan

Sutradara, penulis naskah, sinematografer, dan seluruh kru produksi bekerja sama untuk menciptakan karya seni yang mencerminkan visi dan pandangan mereka terhadap kehidupan. Bisa juga hanya menjadi penghubung bagi orang lain yang punya pandangan berbeda kepada pasar lebih luas.

Proses pembuatan film bukan sekadar teknik dan keterampilan, tetapi juga ekspresi kreatif yang mendalam pada film-film tertentu. Tidak semua film ditujukan untuk hal seperti itu. Tapi setidaknya film yang bagus melakukannya.

Sutradara, sebagai pemimpin proyek, memiliki tanggung jawab besar dalam membimbing narasi dan memberikan arah artistik. Keputusan mereka dalam memilih sudut pandang, gaya visual, dan penggunaan musik memainkan peran kunci dalam memberikan identitas unik pada sebuah film. Melalui proses ini, sutradara mencoba menyampaikan pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan tentang kehidupan dan dunia di sekitar kita.

Penulis naskah, dengan keahlian mereka dalam menerjemahkan imajinasi visual dan rasa kemudian menciptakan dialog, dan mengembangkan karakter, memberikan fondasi bagi keseluruhan narasi.

Dalam pembuatan film, cerita menjadi inti yang mengikat semua elemen bersama-sama. Bagaimana cerita disampaikan akan mempengaruhi bagaimana penonton akan menginterpretasikannya.

Sinematografer, melalui penggunaan kamera, pencahayaan, dan komposisi visual, menciptakan atmosfer dan estetika yang mendukung tema film. Keputusan tentang apakah film tersebut akan menggunakan warna-warna cerah atau tone gelap, menentukan nuansa emosional yang akan dirasakan oleh penonton juga.

Kita sebagai penonton tak perlu merasakan kerumitan dan risiko. Kita hanya perlu menikmati dengan cara yang benar. Kalau belum bisa ke bioskop atau berlangganan aplikasi streaming, setidaknya nikmatilah film bajakan dengan sebaik-baiknya, sefokus-fokusnya.

Sinergi Antara Penonton dan Pembuat Film

Film bagi pembuatnya pastinya merupakan produk akhir, tetapi bagi penonton itu sebuah pengalaman baru yang bisa berdampak atau tidak. Meski demikian, film yang dikerjakan dengan baik akan menjadi jembatan emosional yang menghubungkan kedua pihak melalui kekuatan narasi dan visual.

Sebagai penonton, kita membawa pengalaman hidup kita sendiri ke dalam penilaian terhadap film. Tanpa kita sadari, kita mungkin meresapi momen-momen yang membuat kita tertawa, menangis, atau merenung.

Bagi sebagian penonton biasa, film juga bisa menjadi pelarian dari realitas atau jendela untuk merenungkan kehidupan mereka sendiri.

Pembuat film, di sisi lain, mungkin memiliki misi sekunder untuk menginspirasi, membangkitkan kesadaran, atau sekadar menghibur atau bahkan sekadar mencari cuan demi bertahan hidup. Itu hal yang normal saja. Apa yang menggerakkan seseorang tak selalu harus yang luhur dan penuh nilai-nilai filosofis.

Penonton dan pembuat dilm juga terhubung melalui nilai ekonomi. Selalu ada titik setimbang yang bisa mewadahi keduanya. Pembuat film harus membuat film yang punya nilai ekonomis, setidaknya mengembalikan modal. Mekanisme pasar berlaku. Tak semua pembuat film punya karakter kuat seperti Joko Anwar atau sangat adaptif seperti Ernest Prakasa. Tak semua penonton juga bisa diprediksi seleranya.

Pada akhirnya cara kita menikmati film, sebenarnya cara kita juga menghargai kehidupan. Kalau bukan kehidupan secara umum, mungkin kehidupan para pembuatnya. Jangan nonton film bajakan jika punya kelebihan uang! Sekecil apapun kontribusi kita kepada pembuat film, maka itu mungkin tidak sekecil yang kita pikirkan bagi mereka.

--

--

Muh. Syahrul Padli

A Science Teacher, Head of Penghayat Sumur Community and Digital-Creative worker. co-Founder YT Bawah Pohon Science (an alternative education platform).