Hukum Kekekalan Penderitaan

Muh. Syahrul Padli
4 min readFeb 5, 2024

(Muh. Syahrul Padli — Seri Refleksi)

credit photo

Kebahagiaan sementara, penderitaan abadi. Terdengar sangat suram. Dan itu wajar. Kita tak terbiasa memaklumi perbedaan pemaknaan (intrepetasi) orang lain. Bahkan kita cenderung menolak tanpa melihat secara penuh suatu pandangan.

Tentu saja quote aneh dan suram di awal tulisan bukanlah kebenaran. Tak ada penjelasan logis dan sistematisnya. Tapi bukankah tidak semua harus punya penjelasan logis? Selama percaya terhadap sesuatu punya nilai manfaat, kenapa tidak?

Saya percaya bahwa penderitaan itu kekal atau kalau alergi dengan kata kekal, saya ganti jadi akan ada selama manusia ada. Semua manusia yang hidup — atau memutuskan hidup — akan mengalami penderitaannya sendiri.

Penderitaan pada dasarnya adalah sesuatu yang relatif. Tak ada standar tertentu sama halnya enak dan suka terhadap makanan. Tak ada cara mengukur yang pasti dan akurat. Meski demikian, kita bisa mendefinisikan dulu agar kita punya landasan yang sama.

Penderitaan adalah semua hal yang mengganggu kesejahteraan dan kebahagiaan seseorang. Tak punya uang itu penderitaan ketika hidup di dunia yang menjadikan uang sebagai alat tukar utama demi mendapatkan sesuatu. Di dunia yang menjadikan “manfaat” sebagai alat tukar atau barter, maka uang dalam bentuk kertas dan koin digital tak ada gunanya.

Tak punya pasangan itu penderitaan ketika hidup di dunia yang menganggap bahwa manusia harus berpasang-pasangan. Di dunia yang punya teknologi untuk memuaskan hasrat manusiawi dan untuk punya anak tinggal kloning atau bayi tabung, menikah hanya akan jadi salah satu pilihan hidup.

Dengan memperhatikan contoh-contoh yang saya paparkan, kita bisa menganggap bahwa penderitaan bergantung pada berberapa hal berikut:

Cara seseorang menilai kejadian yang menimpanya.

Persepsi orang-orang di sekelilingnya.

Gangguan yang berpotensi mengganggu tujuan bertahan hidup selama mungkin.

Mari kita terapkan sudut pandang ini kepada konsep kemiskinan dan hubungannya dengan penderitaan!

Kemiskinan hanya akan jadi penderitaan ketika orang (yang mengalaminya) menganggap itu sebagai sebuah hal yang buruk; dia ada di lingkungan yang menilai orang miskin adalah sampah dengan keterbatasannya; dan kemiskinan itu ada di level yang bisa membuatnya lebih cepat menuju ke kuburan sebagai mayat.

Setelah semuanya semakin jelas, saya harus mengubah apa yang saya tulis di awal menjadi lebih lengkap:

Bagi beberapa orang, kebahagiaan sementara, penderitaan abadi.

Perumusan

Penderitaan bisa dirumuskan kedalam sebuah hukum yang disebut hukum kekekalan penderitaan.

Tentu saja kekal atau abadi yang saya maksud bukan akan selamanya ada bahkan bisa menyaingi Tuhan. Kekal di sini meminjam hukum kekekalan energi yang kita pelajari di SMP dan SMA. Bahwa energi kekal karena beralih menjadi bentuk energi lainnya dan itu berlanjut terus menerus dalam sebuah siklus atau proses berulang.

Penderitaan kekal secara keseluruhan, sebagai suatu kesatuan utuh dari sistem dunia ini, tapi di dalam sistem itu sendiri terdapat perubahan-perubahan lokal yang bergantung terhadap waktu, ruang dan keadaan.

Dalam hukum kekekalan penderitaan, perubaha-perubahan lokal dari seseorang berubah menjadi pemahaman baru, pengakuan, kepuasan, kebahagiaan, daya tahan baru atau bahkan tindakan esktrem mencukupkan napas dan sekian banyak kemungkinan lain.

Penderitaan akan terus hadir. Bahkan jika satu bentuk penderitaan dapat diatasi, bentuk lainnya mungkin muncul.

Sumber penderitaan manusia yang utama adalah diri mereka sendiri. Karena manusia berevolusi maka penderitaan juga ikut berevolusi. Tapi tak usah khawatir. Mansuai juga didesain untuk berkembang, maka cara manusia merespon penderitaan juga berevolusi. Semuanya saling menyeimbangkan.

Organisme selain manusia mungkin tak akan menganggap ancaman predator sebagai penderitaan. Selama kebutuhan untuk bertahan hidup terpenuhi, maka mereka tampak menikmati dunianya. Jika mereka bisa mengatasi tantangan evolusi kemudian menjadikannya skill adaptasi maka mereka akan lebih tangguh. Jika tidak, mereka punah. Sesederhana itu.

Kesadaran manusia jadi sumber mengapa konsep dan pemaknaan tentang penderitaan dan kebahagiaan muncul, dimodifikasi, dibentuk ulang dan akhirnya dipegang oleh seseorang.

Kebahagiaan vs Penderitaan

Ada keterkaitan yang kompleks antara penderitaan dan kebahagiaan. Beberapa orang percaya bahwa penderitaan adalah bagian integral dari proses pencapaian tujuan dan kesuksesan, dan bahwa pengalaman penderitaan dapat membentuk karakter dan ketangguhan. Hal ini mirip sebagaimana film yang butuh konflik untuk mematangkan tokohnya.

Pemahaman yang benar tentang penderitaan dapat memberikan manusia tingkat empati tertentu terhadap orang lain. Mereka mungkin menjadi lebih sadar akan kenyataan bahwa setiap individu mungkin mengalami penderitaannya masing-masing, bahkan jika tidak terlihat dari permukaan.

Penderitaan bisa saja memotivasi manusia untuk mencari makna yang lebih mendalam dari setiap pengalaman hidup. Kemudian, dari pencarian makna tersebut dapat menjadi pendorong pertumbuhan spiritual dan refleksi diri.

Dengan memahami hukum kekekalan penderitaan, semoga beberapa dari kita dapat mengelola penderitaan dengan bijaksana, mengintegrasikannya ke dalam perjalanan hidup, dan syukur-syukur menggunakan penderitaan sebagai alat untuk melihat diri sendiri dengan lebih manusiawi. Sempga juga akan hadir pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan yang apa adanya.

Takalar, 5 Februari 2024

--

--

Muh. Syahrul Padli

A Science Teacher, Head of Penghayat Sumur Community and Digital-Creative worker. co-Founder YT Bawah Pohon Science (an alternative education platform).