Titik Kompromi Antara Perbedaan dan Kesamaan Perspektif

Muh. Syahrul Padli
7 min readFeb 5, 2024

(Muh. Syahrul Padli — Esai Refleksi)

credit photo

Dunia ini dipenuhi pemaknaan yang seragam. Cinta tak harus memiliki. Semua orang punya potensi yang sama. Semua orang harus punya mimpi. Jika saya (anak presiden) bisa jadi calon wakil presiden maka Anda yang anak PNS bisa juga. Semua itu adalah contoh bagaimana pemaknaan-pemaknaan yang lazim di masyarakat.

Perkara benar atau tidaknya semua kalimat-kalimat indah yang dicetak miring tersebut, eitss tunggu dulu! Apalagi yang terakhir, itu sudah pasti salah. Maksud saya, pasti kurang tepat. Ampun mas Zafran, eh mas Cawapres.

Mungkin kata “pemaknaan” yang saya pakai agak kurang lazim. Saya sengaja pakai kata ini untuk membuat term tersendiri. Harapannya itu bisa mewakili nafas tulisan ini yang mengambil world-view bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks dan tidak sepenuhnya bisa dipahami hanya dengan hukum alam, tapi juga sebagai makhluk yang mencari makna atau arti dari kehadirannya di dunia.

Saya akan coba jelaskan maksud saya agar tidak mengambang seperti hukum dan kebijakan di negeri ini, wok awok.

Pemaknaan adalah proses menilai, memaknai dan merespon sesuatu.

Saya beri contoh: pemerintah.

Pemerintah bisa kita artikan sebagai kumpulan orang yang menjalankan sistem dan punya kekuasaan mengatur masyarakat. Bisa juga kita artikan sebagai simbol dari kekuasaan.

Proses kita memaknai pemerintah adalah serangkaian tahapan untuk menyimpulkan ‘hakikat’ dari pemerintah dalam perspektif pribadi masing-masing.

Sebelum menyimpulkan, terlebih dahulu kita mengumpulkan data, bisa juga mengamati, bisa juga merasakan atau hanya mendengar dari orang lain dan media. Hasil dari melakukan metodologi khas masing-masing ini — entah disadari atau tidak — adalah pemaknaan.

Bentuk dari pemaknaan bisa macam-macam. Bisa nilai, bisa prinsip, bisa landasan berpikir dll. Tapi intinya, pemaknaan akan berujung pada dua kategori. Pertama, pemaknaan akan selalu personal bagi orang yang punya kemampuan berpikir. Kedua, bagi orang yang menyimpan sementara kemampuan berpikirnya, pemaknaan bisa diseragamkan dan cukup ditanamkan melalui cara-cara tertentu secara berulang.

Pemaknaan bagi kategori kedua itu bisa berakar dari mana saja. Bisa dari filosofi yang dianggap sebagai kebenaran dan terus menerus dijejalkan ke kepala kita, budaya dianggap punya nilai luhur sehingga tak perlu dilihat ulang dengan lebih kritis, bentukan otoritas untuk memperpanjang kekuasaan atau bahkan kesepakatan masyarakat dalam suatu waktu secara sadar tanpa interfensi.

Pemaknaan punya nilai sentral karena dapat berpengaruh pada tindakan atau paling tidak hanya memengaruhi skala prioritas untuk dipedulikan.

Misalnya Anda memaknai bahwa kehidupan adalah kebahagiaan. Anda mendengar ini dari seorang influencer.

Anda mulai percaya itu. Anda kemudian mengejar kebahagiaan versi Anda sendiri.

Dalam rentang waktu tertentu, itulah cara Anda memaknai dunia ini. Dan pemaknaan tersebut bisa berubah ketika Anda terbentur pada realitas atau sadar bahwa Anda tidak punya privilej seperti idola Anda tersebut.

Bagi orang yang memaknai kehidupan adalah tentang bekerja agar cukup saya saja yang merasakan kemiskinan, pemaknaannya akan kebahagiaan akan sangat berbeda. Kebahagiaannya tidak bersumber dari ego pribadi, tapi keberhasilan memudahkan jalan orang-orang yang dia cintai.

Akan sangat banyak pemaknaan yang bisa kita tinjau dari sekeliling kita. Dan orang-orang banyak yang memilih percaya pemaknaan-pemaknaan itu tanpa meragukannya. Tidak semua pemaknaan harus diragukan dan sebaiknya dijalani saja. Ada pemaknaan yang tak akan pernah keliru. Pemaknaan kita sebagai hamba Tuhan yang seharusnya memberi manfaat sebanyak yang dimungkinkan.

Kalau Anda bahagia dengan cara itu silakan. Namun kalau Anda ingin mencari pemaknaan sendiri, maka mulailah meragukan dan bertanya.

Idealnya dunia ini harusnya didefinisikan oleh keanekaragaman sudut pandang, interpretasi, dan pemaknaan yang bervariasi. Dengan demikian orang akan menjadi otentik dan unik berdasarkan pengalamannya.

Sayangnya dunia kita lebih cenderung menghargai kesamaan pemaknaan. Contoh paling dekatnya adalah seragamnya pemaknaan tentang baik dan buruk yang dipegang, boleh atau tidak boleh dan lain sebagainya.

Yang punya otoritaslah yang biasa menyeragamkan pemaknaan. Ini mungkin terlihat sebagai upaya untuk menciptakan harmoni dan persatuan, di mana setiap tindakan dan peristiwa diartikan dengan cara yang sama oleh semua orang. Ketertiban dan keteraturan diharapkan tercipta.

Di sisi lain, dalam beberapa kasus, bisa juga tujuan dari penyeragaman pemaknaan adalah untuk mempertahankan kekuasaan dan otoritas.

Pertanyaan kemudian muncul: apakah keseragaman pemaknaan ini akan membawa pada pemahaman yang lebih baik atau malah menyebabkan kekakuan dan kehilangan kekayaan informasi dari manusia sebagai makhluk yang kompleks?

Keseragaman, dalam konteks pemaknaan, dapat dipandang sebagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, memiliki pemahaman bersama tentang nilai-nilai, etika, dan makna hidup dapat menciptakan dasar yang kokoh untuk harmoni dan keselarasan sosial. Di sisi lain, keanekaragaman sudut pandang membawa inovasi, kreativitas, dan pertumbuhan budaya yang tak terbatas.

Dunia yang dipenuhi oleh keseragaman pemaknaan sangat mungkin kehilangan nuansa dan warna. Tapi itulah dunia di mana kita berada sekarang. Atau mungkin itulah dunia yang saya rasakan sekarang.

Saya dikontrol oleh ketakutan atas penilaian orang. Kalau saya melakukan ini, mungkin ini yang ada di pikiran si A. Si B mungkin berpikir kalau saya orang yang begini. Padahal orang belum tentu peduli dan punya waktu memperhatikan saya. Merasa penting dan punya arti bagi orang lain adalah pemaknaan yang timbul dari kontrol masyarakat. Sialnya itu tertanam di kepala saya. Kebebasan saya terenggut hanya untuk diterima dalam masyarakat. Ada benarnya pemaknaan bahwa hidup ini adalah tentang diterima sebagai masyrakat, tapi bukan berarti itu mutlak benar.

Persepsi publik dan pemaknaan kolektif yang kadang berubah status menjadi kebenaran umum adalah sebabnya. Sayangnya sangat sedikit orang yang coba melawan dengan memberikan pemaknaan berbeda.

Kecerdasan manusia dalam kerumunan itu sangat terbatas. Memproses ide baru akan sangat lambat sampai terjadi kekacauan skala besar untuk mengatur ulang diri sendiri termasuk memasukkan nilai dan pemaknaan baru.

Supaya lebih jelas, saya akan beri contoh yang diambil dari diri sendiri. Saat mem-posting suatu capaian entah lulus beasiswa Australian Award, Knight Hennessy di Stanfor University atau LPDP dalam negeri, beberapa orang memakai pemaknaan bahwa yang saya lakukan adalah pamer atau pencitraan. Padahal ada pemaknaan lain: itu adalah cara orang menyemangati diri sendiri, itu cara orang membungkam orang lain yang sempat meragukannya, itu caranya mendokumentasi, itu caranya berterimakasih dan berkabar kepada orang-orang yang dia sayang dan mendukungnya tanpa syarat.

Kalaupun saya pamer dan pencitraan, kenapa dimaknai sebagai hal buruk? Apakah hanya itu satu-satunya pemaknaan yang ada? Bagaimana jika pamer dan pencitraan justru adalah cara saya meng-upgrade diri? Bagaimana jika pamer dan pencitraan adalah bentuk dukungan saya kepada orang-orang yang prosesnya tak pernah dihargai? Bagaimana jika pamer dan pencitraan adalah cara saya mengkritik para orang-orang julid yang mengira diri mereka suci dan tak menghargai titik start orang lain? Bagaimana jika pamer dan pencitraan adalah adalah cara alternatif saya memberitahu diri sendiri bahwa mencari pengakuan itu hanya salah satu fase dalam hidup, selama seseorang tak berhenti belajar maka dia bisa mencapai level pemahaman baru?

Saya ambil contoh lebih relate. Ketika saya mem-posting reels di IG ketika bepergian ke lokasi wisata hits, bisa saja saya ingin pamer tentang skill sinematografi hasil ikut course atau hasil bereksperimen supaya orang yang punya passion serupa bisa juga tertantang. Tapi ya kita mungkin tak dibiasakan oleh sistem untuk melihat dan memaknai sesuatu secara berbeda. Dan itu mungkin berbahaya dalam sisi tertentu. Kalau belum saat ini, mungkin di masa depan akan menjadi sebuah sumber bahaya yang mengancam kebebasan seseorang.

Bahaya Homogenitas Pemaknaan

Budaya, seni, dan ideologi biasanya tumbuh subur dalam lingkungan yang kaya akan perbedaan. Menghilangkan variasi sudut pandang dapat menyebabkan stagnasi dan kurangnya evolusi dalam pemikiran manusia.

Padahal, dalam dunia yang sebenarnya, pertukaran budaya dan pemaknaan yang beragam adalah kunci kemajuan dan perkembangan. Meskipun ada syarat yang harus dipenuhi untuk sampai pada dunia menuju ideal itu: kedewasaan dan kemampuan berempati orang-orangnya. Dua hal tersebut sangat berkaitan dengan kecerdasan memproses informasi.

Dalam level negara, jika mayoritas warganya punya IQ rata-rata nasional 78,54, kebebasan bukanlah pilihan yang bijak. Masyarakat yang bisa bertanggungjawab atas kebebasannya tentu sangat sedikit karena konsep kebebasan kita tak boleh mengganggu kebebasan orang lain akan sulit dipahami. Sayangnya sikap otoriter kekuasaan juga tidak lebih bijak. Yang bisa dilakukan adalah mencari titik seimbangnya.

Tapi kita abaikan saja itu dulu. Mari kita asumsikan bahwa negara di mana kita berada memungkinkan untuk itu.

Pemahaman tentang kehidupan dari sudut pandang yang berbeda memperkaya pengalaman kita, menginspirasi inovasi, dan membangun jembatan toleransi antar masyarakat untuk berinteraksi secara terbuka.

Keseragaman dalam pemaknaan dapat membatasi ruang bagi pertukaran budaya dan menghambat proses transformasi yang dapat membawa ke arah yang lebih baik.

Pemaknaan juga mencerminkan identitas individu. Setiap orang membawa latar belakang, pengalaman, dan nilai-nilai pribadi yang mempengaruhi cara mereka memahami sekeliling.

Dalam dunia yang seragam, risiko kehilangan identitas individu menjadi kenyataan. Orang mungkin merasa terbatas dalam ekspresi diri mereka dan kehilangan rasa berbeda yang membuat mereka unik.

Meskipun ada sisi baik dari penyeragaman misalnya terdapat kerangka pemahaman bersama, masyarakat harus tetap harus punya ruang perbedaan perspektif agar terbuka terhadap perubahan dan adaptasi. Seimbangnya pemaknaan sebagai suatu komunitas/kelompok dan pemaknaan pribadi yang beragam dapat menjadi sumber kekayaan intelektual dan emosional bagi masyarakat namun tetap terikat sebuah nilai bersama.

Pentingnya Pendidikan

Pendidikan memiliki peran kunci dalam membentuk pemaknaan seseorang terhadap dunia. Pendidikan yang benar akan mendorong keanekaragaman sudut pandang dan mengajarkan pentingnya menghargai perbedaan. Dampaknya tak akan langsung terasa saat ini juga. Tapi di masa mendatang, generasi berikutnya akan memiliki pemahaman yang lebih luas dan inklusif tentang dunia.

Tanpa keanekaragaman, dunia menjadi datar dan monoton. Tanpa keseragaman, kita mungkin kehilangan kemampuan untuk bersatu dan bekerjasama.

Pendidikan adalah tempat di mana kita harusnya bisa memberi bekal bagi generasi selanjutnya untuk memaknai dunia sendiri dan kemudian mencari titik kompromi antara perbedaan dan keseragaman.

Takalar, 5 Februari 2024

--

--

Muh. Syahrul Padli

A Science Teacher, Head of Penghayat Sumur Community and Digital-Creative worker. co-Founder YT Bawah Pohon Science (an alternative education platform).